Wednesday, May 18, 2011

Cerita saya tentang TAN MALAKA

Saya adalah orang yang sama dengan kebanyakan orang Indonesia lainnya yang kurang suka membaca buku, namun seminim-minimnya Pengetahuan saya, saya masih mengenal Para pahlawan Pra kemerdekaan, Proklamasi, Revolusi, hingga Reformasi. Namun ada satu nama yang sama sekali asing untuk saya yaitu TAN MALAKA. Tan Malaka Dihujat dan Dilupakan, begitulah judul buku biografi yang dibuat Harry Poeze sejarawan asal belanda. Ketika saya melihat judul itu saya mengamininya. Tan Malaka, Siapa dia, namanya begitu asing untuk saya dan yang jelas saya tidak pernah dikenalkan oleh guru SD saya seperti mereka mengenalkan saya pada Soekarno, Soedirman, Cut nyak dien atau yang lainnya. Ketika saya menginjakan kaki dibangku SMP saya juga tak kunjung diperkenalkan siapa itu Tan Malaka oleh para guru saya, bahkan mendengarkannya saja saya tidak pernah. Saya diperkenalkan dengan Tan Malaka baru ketika saya menginjakan kaki dibangku SMA, tepatnya kelas 3 SMA oleh guru sejarah saya yang bernama pak Hudi. Namun awal perkenalan saya dengan Tan Malaka sangat singkat dan tidak baik, Tan Malaka diceritakan sebagai tokoh Komunis yang berlawanan sikap dengan D.N Aidit, sehingga dia keluar saat PKI ingin melakukan pemberontakan, hanya sebatas itu saya mengenalnya yang diceritakan secara sangat singkat itu. Setelah itu saya melanjutkan study ke salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Bandung, saya mengambil Program study Ilmu komunikasi, disalah satu mata kuliah yaitu Pengantar Ilmu Politik saya dikenalkan Tan Malaka oleh pak Adiyana dengan sisi yang berbeda, Tan Malaka digambarkan sebagai salah satu pendiri bangsa yang mempunyai pemikiran kedepan. Pada saat  itu muncul pertanyaan dipikiran saya, manakah cerita yang benar, kalau Tan Malaka memang sehebat itu mengapa dia nyaris tidak pernah dibahas dalam pelajaran sejarah yang saya dapatkan di sekolah saya? “hanya sekali tentang PKI, itupun sangat amat singkat”,apakah sekolah saya yang memang benar-benar buruk, tetapi saya rasa sekolah saya menjalankan sistem Pengaajaran berdasarkan kurikulum yang ditetapkan oleh pemerintah, dan setelah saya tanya kepada beberapa teman saya, merekapun sama seperti saya, tidak mengenal siapa itu Tan Malaka. Setelah itu saya berfikir untuk mencaritau tentang sosok Tan Malaka lebih jauh melalui media internet, dan hasilnya sangat mengejutkan sekaligus membuat saya miris dengan kenyataan yang ada. Sekolah-sekolah saya dengan jelas telah melupakan seorang Pahlawan yang memiliki pemikiran yang visioner, namun apakah sekolah saya patut dipersalahkan tentang ini?, saya rasa tidak, karena sekolah saya hanya menjalankan kurikulum yang ditentukan oleh pemerintah saja. Untuk itu saya ingin jawaban dari pemerintah tentang mengapa disekolah saya dari SD hingga SMA tan Malaka nyaris tidak diperkenalkan?, mengapa dia terskesan seperti di anak tirikan?,  
Apakah ada Bapak bangsa lainnya seperti Tan Malaka yang tidak pernah diperkenalkan kepada anak-anak bangsanya?
Sudah selayaknya Pahlawan itu diperkenalkan kepada para generasi muda bangsanya sebagai inspirasi dan contoh mereka, tanpa terkecuali. Jikalau ada kepentingan-kepentingan di masa lalu yang dilakukan oleh suatu pihak sudah saatnya kita semua mengakhiri kepentingan-kepentingan itu. Karena sejauh ini kepentingan-kepentingan itulah yang membawa Indonesia menjadi Negara yang masih kacau di Umurnya yang sudah tidak lagi Belia ini. Sejarah harus disampaikan sesuai dengan fakta yang ada, sebagai pembelajaran untuk anak cucu kita kedepan. Janganlah kita menutupi fakta sejarah hanya untuk melindungi segelintir orang, sehebat apapun manusia tidak akan merasakan sejarahnya sendiri, karena sejarah adalah kematian. Jadi buat apa kita menyembunyikan sejarah ketika kita sudah mati.
Jika ada pihak yang kurang berkenan dengan tulisan ini saya mohon maaf yang sebesar-besarnya karena keterbatasan pengetahuan saya dan keterbatasan kemampuan saya dalam menulis. Tulisan ini tidak bermaksud apa-apa selain keinginan suatu generasi untuk mengetahui sejarah nenek moyangnya sesuai dengan fakta yang ada dan agar tidak ada lagi Pahlawan-pahlawan yang di anak tirikan.


                                                                   Bandung, 21 April 2011 _ 17:22

No comments:

Post a Comment

Post a Comment